AI Investdesk
Masuk
EKONOMI MAKRO·DAMPAK 8/10·Sentimen campuran

BI Kurangi Intervensi Spot 30%, Tahan Suku Bunga 5,75% di Tengah Tekanan Rupiah

Gedung Bank Indonesia di Jakarta yang menjadi pusat kebijakan moneter dan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Gedung Bank Indonesia di Jakarta, tempat Gubernur Destry Damayanti mengumumkan strategi baru intervensi rupiah dan penetapan suku bunga.(Wikimedia Commons / Dacoslett · CC BY-SA 3.0)
Poin kunci
  • —Intervensi BI di pasar spot turun drastis menjadi hanya 30% dari total intervensi, beralih ke DNDF dan NDF untuk efisiensi cadangan devisa.
  • —BI Rate dipertahankan di 5,75% karena inflasi inti stabil di sekitar 2% dan inflasi umum 3,19% didorong oleh pangan bergejolak, bukan permintaan.
  • —Tekanan eksternal dari kenaikan suku bunga The Fed dan lonjakan yield US Treasury memicu outflow modal, mendorong rupiah ke level Rp17.900/USD.
  • —Kami menilai potensi pelemahan lanjutan ke Rp18.000/USD akan meningkatkan biaya pendanaan bagi emiten berutang dolar dan menekan sentimen pasar saham.
VIDEO: Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026 [Metro Hari Ini] · METRO TV

Pergeseran Strategi Moneter: Efisiensi Cadangan Devisa vs Stabilitas Kurs

Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR pada 28 September 2026, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan perubahan signifikan dalam strategi stabilisasi nilai tukar rupiah. Menurut CNBC Indonesia, intervensi di pasar spot kini hanya menyumbang 30% dari total intervensi BI, sebuah penurunan drastis dari dominasi pasar spot di masa lalu. Pergeseran ini didorong oleh pertimbangan efisiensi, mengingat penjualan dolar langsung di pasar spot sangat menggerus cadangan devisa (cadev).

"Kita pun sekarang sudah sangat mengurangi intervensi yang mahal, itu melalui spot, jumlahnya sekitar 30% dari total intervensi yang kami lakukan," ujar Destry. BI kini lebih mengandalkan instrumen derivatif seperti Domestic Non-Delivery Forward (DNDF) dan Non-Delivery Forward (NDF) yang dinilai lebih efektif dalam meredam volatilitas tanpa menguras likuiditas devisa secara langsung.

Suku Bunga Tetap 5,75%: Inflasi sebagai Jangkar Utama

Di sisi kebijakan suku bunga, BI mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Keputusan ini didasarkan pada asesmen bahwa inflasi masih berada dalam kondisi terkendali. Destry menjelaskan bahwa inflasi inti (core inflation) masih stabil di sekitar 2%, sementara inflasi umum tercatat di 3,19%.

Kenaikan inflasi umum ini, menurut BI, lebih banyak dipengaruhi oleh komponen harga pangan bergejolak (volatile food) daripada tekanan permintaan domestik. Oleh karena itu, respons kebijakan tidak dapat hanya mengandalkan instrumen suku bunga, melainkan memerlukan koordinasi lintas sektor untuk mengendalikan harga pangan.

Tekanan Eksternal dan Risiko Level Rp18.000/USD

Meskipun BI berupaya menjaga stabilitas, tekanan eksternal tetap menjadi tantangan utama. Analis FX CNBC Indonesia, Elvan Chandra Widyatama, mencatat bahwa koreksi IHSG dan pelemahan rupiah ke Rp17.900 per Dolar AS pada penutupan sesi I Jumat (25/9) dipicu oleh sentimen global, khususnya kenaikan suku bunga acuan The Fed dan lonjakan yield US Treasury.

Kondisi ini mendorong aliran modal keluar (outflow) dari pasar emerging market, termasuk Indonesia. Kami menilai bahwa dengan indeks Dolar AS yang terus menguat, potensi pelemahan lanjutan rupiah ke level Rp18.000/USD menjadi skenario yang realistis jika tekanan eksternal tidak mereda.

Implikasi untuk Portofolio dan Aset Riil

Perubahan strategi BI ini memiliki implikasi langsung bagi investor institusional dan ritel:

1. Emiten Berutang Dolar: Pelemahan rupiah yang berpotensi menyentuh Rp18.000/USD akan meningkatkan beban bunga bagi perusahaan yang memiliki utang denominasi dolar. Kami menyarankan untuk mewaspadai emiten di sektor perbankan dan infrastruktur yang memiliki eksposur valas tinggi.
2. Sektor Ekspor: Bagi emiten ekspor, pelemahan rupiah dapat menjadi katalis positif bagi margin laba, terutama di sektor komoditas dan manufaktur yang berorientasi ekspor.
3. Amanat Aset: Dalam kondisi ketidakpastian kurs dan suku bunga global, diversifikasi ke aset lindung nilai seperti emas atau obligasi global dapat menjadi strategi mitigasi risiko yang prudent.

"Kalau sektor eksternal kita masih lemah tentu itu akan berat, sehingga kami bicara bagaimana program-program tingkatkan ekspor, investasi, termasuk real investment maupun portfolio investment," tegas Destry.

Kesimpulannya, BI sedang menyeimbangkan antara menjaga cadangan devisa dan stabilitas kurs. Investor perlu memantau perkembangan koordinasi pemerintah dalam mengendalikan inflasi pangan serta respons pasar terhadap kebijakan The Fed selanjutnya.


Sumber

ASET YANG DISEBUT DALAM LAPORAN INI
USDIDR

Grafik harga dan penilaian komite untuk aset di atas ada di terminal. Buat akun gratis untuk membukanya.

Warta ini hanya separuh ceritanya

Grafik harga langsung, putusan empat agen AI, katalog 400+ instrumen, dan laboratorium backtest ada di dalam terminal. Buat akun gratis untuk membukanya.